1. Banyumas
Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegero setelah selesa-inya peperangan tahun 1830, mereka kebanyakan menet-ap didaerah Banyumas. Pengikutnya yang terkenal waktu itu ialah Najendra dan dialah mengembangkan batik celup di Sokaraja. Bahan mori yang dipakai hasil tenunan sendiri dan obat pewama dipakai pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah kesemuan kuning.
Lama kelamaan pembatikan menjalar pada rakyat Sokaraja dan pada akhir abad ke-XIX berhubungan langsung dengan pembatik didaerah Solo dan Ponorogo. Daerah pembatikan di Banyumas sudah dikenal sejak dahulu dengan motif dan wama khususnya dan sekarang dinamakan batik Banyumas. Setelah perang dunia kesatu pembatikan mulai pula dikerjakan oleh Cina disamping mereka dagang bahan batik.
2. Ciamis
Pembatikan dikenal di Ciamis sekitar abad ke-XIX setelah selesainya peperangan Diponegoro, dimana pengikut-pengikut Diponegoro banyak yang meninggalkan Yogyakarta, menuju ke selatan. Sebagian ada yang menetap didaerah Banyumas dan sebagian ada yang meneruskan perjalanan ke selatan dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya sekarang. Mereka ini merantau dengan keluargany a dan ditempat baru menetap menjadi penduduk dan melanjutkan tata cara hidup dan pekerjaannya. Sebagian dari mereka ada yang ahli dalam pembatikan sebagai pekerjaan kerajinan rumah tangga bagi kaum wanita. Lama kelamaan pekerjaan ini bisa berkembang pada penduduk sekitarnya akibat adanya pergaulan sehari-hari atau hubungan keluarga. Bahan-bahan yang dipakai untuk kainnya hasil tenunan sendiri dan bahan catnya dibuat dari pohon seperti: mengkudu, pohon tom, dan sebagainya.
3. Pembatikan di Jakarta
Pembatikan di Jakarta dikenal dan berkembangnya bersamaan dengan daerah-daerah pembatikan lainnya yaitu kira-kira akhir abad ke-XIX. Pembatikan ini dibawa oleh pendatang-pendatang dari Jawa Tengah dan mereka bertempat tinggal kebanyakan didaerah-daerah pembatikan. Daerah pembatikan yang dikenal di Jakarta tersebar didekat Tanah Abang yaitu: Karet, Bendungan Ilir dan Udik, Kebayoran Lama, dan daerah Mampang Prapatan serta Tebet.
Jakarta sejak zaman sebelum perang dunia kesatu telah menjadi pusat perdagangan antar daerah Indonesia dengan pelabuhannya Pasar Ikan sekarang. Setelah perang dunia kesatu selesai, dimana proses pembatikan cap mulai dikenal, produksi batik meningkat dan pedagang-pedagang batik mencari daerah pemasaran baru. Daerah pasaran untuk tekstil dan batik di Jakarta yang terkenal ialah: Tanah Abang, Jatinegara dan Jakarta Kota, yang terbesar ialah Pasar Tanah Abang sejak dari dahulu sampai sekarang. Batik-batik produksi daerah Solo, Yogya, Banyumas, Ponorogo, Tulungagung, Pekalongan, Tasikmalaya, Ciamis dan Cirebon serta lain-lain daerah, bertemu di Pasar Tanah Abang dan dari sini baru dikirim kedaerah-daerah diluar Jawa. Pedagang-pedagang batik yang banyak ialah bangsa Cina dan Arab, bangsa Indonesia sedikit dan kecil.
4. Pembatikan di Luar Jawa
Dari Jakarta, yang menjadi tujuan pedagang-pedagang di luar Jawa, maka batik kemudian berkembang di seluruh penjuru kota-kota besar di Indonesia yang ada di luar Jawa, daerah Sumatera Barat misalnya, khususnya daerah Padang, adalah daerah yang jauh dari pusat pembatikan dikota-kota Jawa, tetapi pembatikan bisa berkembang didaerah ini.
Sumatera Barat termasuk daerah konsumen batik sejak zaman sebelum perang dunia kesatu, terutama batik-batik produksi Pekalongan (saaingnya) dan Solo serta Yogya. Di Sumatera Barat yang berkembang terlebih dahulu adalah industri tenun tangan yang terkenal “tenun Silungkang” dan “tenun plekat”. Pembatikan mulai berkembang di Padang setelah pendudukan Jepang, dimana sejak putusnya hubungan antara Sumatera dengan Jawa waktu pendudukan Jepang, maka persediaan-persediaan batik yang ada pada pedagang-pedagang batik sudah habis dan konsumen perlu batik untuk pakaian sehari-hari mereka. Ditambah lagi setelah kemerdekaan Indonesia, dimana hubungan antara kedua pulau bertambah sukar, akibat blokade-blokade Belanda, maka pedagang-pedagang batik yang biasa hubungan dengan pulau Jawa mencari jalan untuk membuat batik sendiri.
Sumber (pesonabatik.site40.net)
Perkembangan Batik di Daerah
Ragam Batik
Ada beberapa pandangan yang mengelompokkan batik menjadi dua kelompok seni batik, yakni batik keraton (Surakarta dan Yogyakarta) dan seni batik pesisir.
Motif seni batik keraton banyak yang mempunyai arti filosofi, sarat dengan makna kehidupan. Gambarnya rumit/halus dan paling banyak mempunyai beberapa warna, biru, kuning muda atau putih. Motif kuno keraton seperti pola panji (abad ke-14), gringsing (abad 14), kawung yang diciptakan Sultan Agung (1613-1645), dan parang, serta motif anyaman seperti tirta teja.
Kemudian motif batik pesisir memperlihatkan gambaran yang lain dengan batik keraton. Batik pesisir lebih bebas serta kaya motif dan warna. Mereka lebih bebas dan tidak terikat dengan aturan keraton dan sedikit sekali yang memiliki arti filosofi. Motif batik pesisir banyak yang berupa tanaman, binatang, dan ciri khas lingkungannya. Warnanya semarak agar lebih menarik konsumen.
sumber(pesonabatik.site40.net)
Budaya Batik
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.
Sumber (id.wikipedia.org)
Jenis Batik yang Berkembang di Indonesia
Indonesia tercinta memiliki banyak budaya yang bisa kita banggakan di dunia internasional. Salah satunya kita mempunyai batik dan saat ini dinominasikan dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusian UNESCO (Representative List of Intangible Cultural Heritage-Unesco). Corak dan motif batik Indonesia sendiri sangat banyak, ada yang merupakan motif asli dari nenek moyang bangsa kita dan ada juga yang merupakan akulturasi dengan bangsa lain.
1. Batik Kraton
Batik Kraton awal mula dari semua jenis batik yang berkembang di Indonesia. Motifnya mengandung makna filosofi hidup. Batik-batik ini dibuat oleh para putri kraton dan juga pembatik-pembatik ahli yang hidup di lingkungan kraton. Pada dasarnya motifnya terlarang untuk digunakan oleh orang “biasa” seperti motif Parang Barong, Parang Rusak termasuk Udan Liris, dan beberapa motif lainnya.
2. Batik Sudagaran
Motif larangan dari kalangan keraton merangsang seniman dari kaum saudagar untuk menciptakan motif baru yang sesuai selera masyarakat saudagar. Mereka juga mengubah motif larangan sehingga motif tersebut dapat dipakai masyarakat umum. Desain batik Sudagaran umumnya terkesan “berani” dalam pemilihan bentuk, stilisasi atas benda-benda alam atau satwa, maupun kombinasi warna yang didominasi warna soga dan biru tua. Batik Sudagaran menyajikan kualitas dalam proses pengerjaan serta kerumitan dalam menyajikan ragam hias yang baru. Pencipta batik Sudagaran mengubah batik keraton dengan isen-isen yang rumit dan mengisinya dengan cecek (bintik) sehingga tercipta batik yang amat indah.
3. Batik Petani
Batik yang dibuat sebagai selingan kegiatan ibu rumah tangga di rumah di kala tidak pergi ke sawah atau saat waktu senggang. Biasanya batik ini kasar dan kagok serta tidak halus. Motifnya turun temurun sesuai daerah masing-masing dan batik ini dikerjakan secara tidak profesional karena hanya sebagai sambilan. Untuk pewarnaan pun diikutkan ke saudagar.
4. Batik Belanda
Warga keturunan Belanda banyak yang tertarik dengan batik Indonesia. Mereka membuat motif sendiri yang disukai bangsa Eropa. Motifnya berupa bunga-bunga Eropa, seperti tulip dan motif tokoh-tokoh cerita dongeng terkenal di sana.
5. Batik Cina/Pecinan
Batik Cina merupakan akulturasi budaya antara perantau dari Cina dengan budaya lokal Indonesia. Ciri khas batik ini warnanya variatif dan cerah, dalam satu kain menampilkan banyak warna. Motifnya banyak mengandung unsur budaya Cina seperti motif burung hong (merak) dan naga. Pola batiknya lebih rumit dan halus.
6. Batik Jawa Hokokai
Pada masa penjajahan Jepang di pesisir Utara Jawa lahir ragam batik tulis yang disebut batik Hokokai. Motif dominan adalah bunga seperti bunga sakura dan krisan. Hampir semua batik Jawa Hokokai memakai latar belakang (isen-isen) yang sangat detail seperti motif parang dan kawung di bagian tengah dan tepiannya masih diisi lagi, misalnya motif bunga padi.
Sumber (lifestyle.dnaberita.com)
Peneliti Australia Ungkap Rahasia Komodo Indonesia
Brisbane, 23/4 (ANTARA News) - Tim peneliti Universitas New South Wales (UNSW) Australia berhasil mengungkap rahasia komodo (varanus komodoensis) sebagai salah satu "mesin pembunuh" berbahaya, sekalipun gigitan reptilia asal Pulau Komodo itu sama "lemahnya" dengan gigitan kucing.
Keberhasilan tim peneliti Australia dalam mengungkap rahasia kedahsyatan binatang yang memiliki panjang dua hingga tiga meter dan berat hingga 70 kilogram ini didukung oleh prinsip-prinsip teknik yang biasa digunakan dalam uji tabrakan alat transportasi.
Menurut laporan riset UNSW yang diterima ANTARA dari Konsultan Komunikasi Internasional UNSW, Louise Williams, di Brisbane, Rabu, komodo itu bisa dengan mudah membunuh buruannya, termasuk kerbau, tanpa menggunakan kekuatan besar.
Kadal raksasa ini tumbuh menjadi mesin pembunuh yang hebat dengan cara mengangkat rahangnya yang lemah dengan menggunakan otot-otot leher dan badan untuk menarik binatang yang menjadi korbannya pada saat menggigit.
Dengan gigi-gigi tajam dan bergerigi, satu kali gigitan komodo bisa merobek sebungkah daging binatang buruannya dalam sekali sergap.
Peneliti UNSW Dr Stephen Wroe dalam laporan riset itu menjelaskan bagaimana serangan komodo dapat menimbulkan luka serius di tubuh binatang buruannya, termasuk invertebrata, burung, mamalia, termasuk kerbau.
Dalam kondisi binatang buruannya yang terluka, komodo kembali menyantap sebongkah daging, lalu berhenti dan menunggu sampai korbannya mati kehabisan darah.
Dari penelitian itu terbukti komodo memiliki cara membunuh yang sangat efektif, terutama dibandingkan dengan jenis kucing besar yang harus menggunakan tenaga besar dan beresiko terluka saat mencekik mati buruannya, kata Dr.Wroe.
Ia lantas menganalogikan teknik membunuh komodo dengan hiu putih Australia yang juga suka membiarkan binatang buruannya, seperti anjing laut, mati dengan sendirinya tanpa ia harus mengeluarkan tenaga tambahan.
Dalam penelitiannya, mereka menggunakan model-model komputer teknik yang biasa dipakai untuk mengukur kekuatan dalam simulasi uji kecelakaan pesawat terbang, kereta api, maupun mobil.
Mereka membangun apa yang disebut predator digital tiga dimensi sesuai dengan data yang mereka peroleh dari "CT Scan" spesimen komodo milik sebuah meseum.
Untuk pertama kalinya, penelitian ini menghasilkan pengukuran-pengukuran yang akurat tentang bio-mekanik kekuatan gigitan komodo maupun mekanisme makanannya.
Hasil riset ini telah dipublikasi di edisi terbaru "Journal of Anatomy". Populasi reptilia yang pertama kali ditemukan para peneliti Barat tahun 1920 ini perkirakan mencapai 4.000 - 5.000 ekor di habitat aslinya.
Namun, akibat perkembangan kegiatan manusia, eksistensi binatang yang punya kaitan dengan binatang purba 100 juta tahun lalu ini cenderung terdesak.
Perhimpunan Konservasi Alam Internasional (IUCN) kemudian memasukkan komodo ke dalam daftar binatang yang patut dilindungi.
Binatang pemakan daging bangkai ini tahun lalu dilaporkan pernah memangsa seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun di Pulau Komodo kendati kasus ini termasuk kasus langka.
(Sumber: antara.co.id)
Sejarah pulau komodo
Disebut pulau komodo bukan berarti pulau tersebut mirip komodo, tapi pulau tersebut banyak terdapat binatang reptil yang bernama komodo. Pulau komodo terletak di jajaran kepulauan Flores yang berada di Indonesia bagian timur.
Menurut cerita, wisata pulau Komodo berawal dari adanya kisah tentang naga raksasa. Banyak pelaut yang berkisah bahwa naga ini lebih mirip monster yang menakutkan. Ekornya yang besar bisa merubuhkan seekor kerbau hanya dengan satu kibasan. Rahangnya besar dan kuat, hingga mampu menelan seekor babi hutan dalam satu gerakan. Dan dari mulutnya senantiasa menyemburkan api.
Kisah ini beredar luas dan sempat menarik banyak perhatian orang, namun pada saat itu tidak ada orang yang berani mendekati pulau tersebut karena cerita yang beredar.
Para pelaut militer Belanda memberi laporan bahwa makhluk Komodo kemungkinan berukuran sampai tujuh meter panjangnya, dengan tubuh raksasa dan mulut yang senantiasa menyemburkan api. Letnan Steyn van Hensbroek, seorang pejabat Administrasi Kolonial Belanda di kawasan Flores mendengar laporan ini dan kisah-kisah yang melingkupi Pulau Komodo. Ia pun merencanakan perjalanan ke Pulau Komodo.
Setelah mempersenjatai diri dan membawa satu regu tentara terlatih, ia mendarat di pulau tersebut. Setelah beberapa hari di pulau itu, Hensbroek berhasil membunuh satu spesies aneh itu.
Ia membawanya ke markas dan dilakukan pengukuran panjang hasil buruannya itu dengan panjang kira-kira 2,1 meter. Bentuknya sangat mirip kadal. Satwa itu kemudian dipotret (didokumentasikan) oleh Peter A Ouwens, Direktur Zoological Museum and Botanical Gardens Bogor, Jawa. Inilah dokumentasi pertama tentang komodo.
Ouwens tertarik dengan temuan satwa aneh tersebut. Ia kemudian merekrut seorang pemburu lihai untuk menangkap spesimen untuknya. Sang pemburu berhasil membunuh dua ekor komodo yang berukuran 3,1 meter dan 3,35 meter, plus menangkap dua anakan, masing-masing berukuran di bawah satu meter.
Berdasarkan tangkapan sang pemburu ini, Ouwens melakukan penelitian dan menyimpulkan bahwa komodo bukanlah naga penyembur api, melainkan termasuk jenis kadal monitor (monitor lizard) di kelas reptilia.
Hasil penelitiannya ini kemudian dipublikasikan pada koran terbitan tahun 1912. Dalam pemberitaan itu, Ouwens memberi saran nama pada kadal raksasa itu Varanus komodoensis sebagai pengganti julukan Komodo Dragon (Naga Komodo).
Sadar arti penting komodo sebagai satwa langka, Pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan proteksi terhadap komodo dan Pulau Komodo pada 1915. Jadilah kawasan itu sebagai wilayah konservasi komodo.
Temuan komodo sebagai legenda naga yang hidup, memancing rasa ingin tahu dunia internasional. Beberapa ekspedisi ilmiah dari berbagai negara secara bergilir melakukan penelitian di Pulau Komodo.
Usaha Indonesia memasukan pulau Komodo menjadi tujuh keajaiban dunia
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik terus menggalang dukungan agar Pulau Komodo masuk nominasi tujuh keajaiban dunia (seven wonders)."Upaya itu dilakukan melalui Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama pengelolaan Pulau Komodo," kata Wacik.
Taman Nasional Komodo yang berada di daaerah Flores, Nusa Tenggara Timur kini menempati urutan ke-13 menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata(Depbudpar) dalam nominasi 7 Keajaiban Dunia setelah menyingkirkan Pulau Sipadan yang berada di Malaysia. Pulau Komodo, yang jadi andalan Indonesia dalam ajang New7Wonders of Nature punya keunggulan satwa langka yang dipercaya sebagai “dinosaurus terakhir di muka bumi”.
Menurut Dirjen Pemasaran Pariwisata Depbudpar Nirwandar, sesuai dengan pengumuman New 7 Wonders Foundation, Taman Nasional Komodo(TNK) berhak maju ke final. Karena itu, pihaknya mengimbau segenap masyarakat Indonesia memberikan dukungannya agar TNK berhasil menjadi salah satu tujuh keajaiban dunia. "Pengumuman hasil TNK masuk final tanggal 21 Juli 2009 sekitar pukul 19.07 WIB. Sekarang kita juga sudah mendapatkan sebuah bentuk advantages dari sisi promosi. Oleh karena itu, saya mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk melakukan vote, mendukung Taman Nasional Komodo ini agar berhasil menjadi salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia bernuansa Alam yang akan dideklarasikan pada tahun 2011 nanti," ajak Nirwandar. Dijelaskan, sosialisasi yang bertujuan memajukan pariwisata bangsa ini dilakukan pihaknya yang bertindak sebagai "Komodo National Park Official Supporting Committee" bekerja sama dengan Balai TMNK dan Pemkab Manggarai tersebut berkonsep pesta rakyat.
(dari berbagai sumber)





